oleh Arnold Willyarto (E1I023022)
“Setiap mengambil sumber daya laut satu kali, manusia bertanggungjawab mengembalikannya satu kali juga. Pilihlah langkah-langkah yang berkelanjutan.”
I. PENDAHULUAN
Biologi laut merupakan cabang ilmu biologi mengkaji tentang biota-biota yang air asin (air laut), keanekaragaman flora fauna yang ada di laut dan sekitarnya, prinsip-prinsip biologi yang mengatur organisasi dan kelangsungan hidup organisme serta interaksinya terhadap lingkungan sekitar (Zamani et al., 2020).
Biota Laut adalah semua makhluk yang hidup di laut, baik hewan, tumbuhan, maupun karang. Secara umum biota laut terbagi menjadi tiga kelompok utama yaitu plankton, nekton, dan benthos. Pada pembagian ini tidak ada hubungannya dengan klasifikasi ilmiah, ukuran, hewan atau tumbuhan. Tetapi pengklasifikasian ini berdasarkan pada kebiasaan hidup umum seperti berjalan, gaya hidup, dan persebaran menurut ekologi (Jalaludin dkk., 2020).
II. ISI
2.1 Pengertian Tumbuhan atau Sumber Daya Hayati
Sumberdaya hayati laut terdiri dari tiga ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem adalah hubungan antara faktor biotik dan abiotik yang saling berhubungan satu sama lain. Struktur susunan ekosistem dari darat ke laut dimulai dari ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang, dimana ketiga ekosistem ini berperan penting bagi pesisir sebagai pelindung garis pantai dari gelombang laut. Ketiga ekosistem ini juga memiliki cir-ciri yang berbeda satu sama lain, baik ciri-ciri substratnya maupun ciri-ciri biota yang hidup didalamnya.
2.1.1 Rumput Laut
Rumput Laut merupakan salah satu tumbuhan yang hidup di daerah perairan yang tidak memiliki akar, batang maupun daun sejati. Rumput Laut memiliki bentuk struktur tubuh yang mirip, walaupun sebenarnya berbeda yang disebut sebagai thallus. Tumbuhan ini hidup dengan cara menempel pada substrat dasar luat atau benda lain yang berada di daerah pasang surut. Saat ini rumput laut sudah banyak dibudidayakan oleh para petani rumput laut, dikarenakan rumput laut memiliki nilai ekonomis serta peluang yang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk, salah satunya sebagai kosmetik (Yanuarti, Nurjanah, Anwar dan Pratama, 2017)
2.1.2 Padang Lamun
Padang lamun merupakan ekosistem laut yang terdiri dari tumbuhan berjenis rumput laut yang tumbuh di perairan dangkal, terutama di sepanjang pantai dan laguna. Padang lamun memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman hayati laut dan ekosistem pesisir. Tumbuhan lamun seperti rumput laut menyediakan tempat berlindung dan tempat berkembang biak bagi berbagai spesies ikan dan invertebrata. Ekosistem ini juga berkontribusi pada siklus nutrisi laut dan membantu menjaga kualitas air. Sayangnya, padang lamun seringkali terancam oleh aktivitas manusia seperti polusi, pendangkalan pantai, dan kerusakan habitat, sehingga perlindungan dan pelestarian padang lamun menjadi sangat penting (Marwati dkk., 2019)..
2.1.3 Mangrove
Mangrove adalah tumbuhan yang tumbuh di wilayah pesisir, terutama di muara sungai dan daerah berair payau. Mangrove memiliki akar udara yang unik yang memungkinkannya hidup di lingkungan yang tergenang air atau lumpur. Ekosistem mangrove memberikan perlindungan bagi hewan-hewan pesisir, termasuk berbagai jenis ikan, moluska, dan burung. Selain itu, mangrove berperan sebagai barier alami yang membantu melindungi pantai dari abrasi dan badai. Ekosistem ini juga memiliki nilai ekonomi dengan memberikan kayu, bahan bakar, dan sumber daya alam lainnya kepada masyarakat lokal. Perlindungan dan pelestarian mangrove menjadi penting untuk mendukung keseimbangan ekosistem pesisir dan melindungi biodiversitas laut (Kusmana, 2016)
2.1 HEWAN LAUT
2.1 Lobster pasir (Panulirus homacus)
2.1.1 Pengertian Lobster pasir (Panulirus homacus)
Lobster pasir (Panulirus homacus) hidup pada perairan berkarang yang dangkal, dalam lubang-lubang, dan berkelompok dalam jumlah yang banyak. Lobster banyak ditemukan di te- rumbu karang karena sebagai pelindung dari ombak, tempat bersembunyi dari pre- dator, dan sebagai daerah mencari makan (Setyanto et al., 2018).
2.1.2 Klasifikasi Lobster pasir (Panulirus homacus)
Klasifikasi lobster pasir (WWF, 2015) dan tata nama lobster pasir secara ilmiah dalam taksonomi adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthrophoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Bangsa Decaphoda
Suku : Palinuridae
Genus : Panulirus
Spesies : Panulirus homarus
2.1.3 Faktor Hidup Lobster pasir (Panulirus homacus)
Lobster pasir (Panulirus homacus) hidup pada perairan berkarang yang dangkal, dalam lubang-lubang, dan berkelompok dalam jumlah yang banyak. Lobster banyak ditemukan di te- rumbu karang karena sebagai pelindung dari ombak, tempat bersembunyi dari pre- dator, dan sebagai daerah mencari makan (Setyanto et al., 2018). Kelimpahan plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik terdiri atas pola siklus hidup, penyebaran, dan toleransi terhadap faktor lingkungan. Adapun faktor abiotik seperti faktor fisika dan kimia perairan, tipe substrat, dan ketersediaan makanan (Wandira et al., 2020). Kondisi perairan biasanya lebih disukai oleh lobster pasir pada lobster pasir kisaran salinitas 35 ̶ 37 ppt. Tingkat salinitas secara signifikan mempengaruhi mereka secara biologis dan terlalu banyak air tawar dapat menyebabkan sel mereka membengkak dan dapat menyebabkan kematian (Seneviratna et al. 2017).
2.1.4 Budidaya Lobster pasir (Panulirus homacus)
Ketersediaan pakan ikan rucah yang tidak kontinyu dan harganya mahal pada musim-musim tertentu. Ikan rucah pada saat cuaca normal, dapat dengan mudah didapat dengan penangkapan. Pada kegiatan budidaya, khususnya stadia pembesaran, pakan adalah salah satu faktor penting yang harus diperhatikan (Diatin, dkk., 2021), oleh karena itu diperlukan upaya introduksi dan pelatihan fokus materi tentang pakan lobster kepada para calon pembudidaya. Adapun materi yang diberikan yaitu budidaya lobster laut secara umum adalah pengenalan umum Keramba Jaring Apung (KJA) modern dan pedoman pemanfaatannya, teknik budidaya benih-benih lobster (BBL) atau pendederan, teknik budidaya lobster remaja/pembesaran, teknologi pakan dan pengendalian parasit dan penyakit.
2.1.5 Bahaya Dan Kerusakan Lobster pasir (Panulirus homacus)
Lobster yang sering terserang MHD - SL di kawasan ini adalah lobster pasir ( Panulirus homarus ) dan lobster mutiara ( Panulirus ornatus ). Menurut, Koesharyani et al. (2016), deteksi MHD - SL sering ditemukan pada kedua lobster tersebut. Harga lobster pasir relatif murah dibandingkan dengan lobster mutiara dan minat masyarakat akan lobster pasir lebih tinggi dibandingkan dengan lobster m utiara, maka pada penelitian ini menggunakan lobster pasir untuk menyesuaikan dengan harga dan minat masyarakat akan lobster
2.2 Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
2.2.1 Pengertian Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
Udang vaname (Litopenaeus vannamei) berasal dari Pantai Barat Pasifik Amerika Latin, mulai dari Peru di Selatan hingga Utara Meksiko. Udang vaname mulai masuk ke Indonesia dan dirilis secara resmi pada tahun 2001. Udang vaname merupakan salah satu udang yang mempunyai nilai ekonomis dan merupakan jenis udang alternatif yang dapat dibudidayakan di Indonesia, disamping udang windu (Panaeus monodon) dan udang putih (Panaeus merguensis). Udang vaname tergolong mudah untuk dibudidayakan. Hal itu pula yang membuat para petambak udang di tanah air beberapa tahun terakhir banyak yang mengusahakannya (Nababan dkk., 2015).
2.2.1 Klasifikasi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) :
Klasifikasi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) :
Kindom : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei
2.2.3 Faktor Hidup Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan penggelondongan udang vaname adalah kapadatan penebaran. Padat tebar yang tinggi akan meningkatkan kandungan bahan organik akibat penumpukan sisa pakan dan sisa metabolisme sehingga udang akan stres dan mudah terinfestasi ektoparasit dan dapat berakhir dengan kematian. Selain itu factor lain yang mempengaruhi keberhasilan penggelondong adalah kualitas air, pakan dan ketersediaan oksigen. Dari berbagai metode yang dilakukan oleh penggelondong ini seringkali tidak diperhatikan karena kurangnya fasilitas dan pemahaman tentang pentingnya pemeliharaan benur udang baik dari petak penggelondongan hingga ke petak pembesaran nantinya. Diharapkan dengan dilakukannya penelitian ini akan sedikit membantu penggelondong tentang bagaimana perlakuan yang diberikan dalam pemeliharaan benur udang vaname khususnya dalam hal penentuan padat tebar baik dalam petak penggelondongan hingga petak pembesara
2.2.4 Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
Budidaya udang vaname, L. vannamei telah berkembang secara pesat di beberapa negara Asia Tenggara (Lukwambe et al., 2019). Budidaya udang vaname mayoritas dilakukan secara intensif dengan tingkat padat tebar yang sangat tinggi (Ariadi et al., 2021) budidaya udang vaname yang panjang akan membuat keberadaan limbah organik menjadi semakin menumpuk dan membuat keberadaan komunitas bakteri Vibrio sp. tumbuh dengan baik. Berdasarkan hasil analisis causal loop model menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri Vibrio sp. diestimasi memiliki fluktuasi yang dinamis mengikuti pola tingkat metabolisme biologis, serta faktor adaptasi fisiologis dari bakteri itu sendiri terhadap kondisi lingkungan sekitar. Kondisi ini membuat tingkat infeksi bakteri Vibrio sp. pada ekosistem tambak udang vaname menjadi akan semakin oportunis seiring dengan lamanya masa siklus budidaya udang.
2.1.5 Bahaya Dan Kerusakan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
2.3. Kepiting Bakau (Scylla serrata)
2.3.1 Pengertian Kepiting Bakau (Scylla serrata)
Kepiting bakau (Scylla) adalah sejenis kepiting yang hidup di ekosistem hutan bakau dan estuaria, anggota suku Portunidae. Kepiting yang mempunyai nilai ekonomis penting ini didapati di pantai-pantai pesisir Afrika, Asia dan Australia. Dalam bahasa Inggris ia dikenal sebagai mangrove crab, mud crab, dan juga Indo-Pacific swamp crab.
2.3.2 Klasifikasi Kepiting Bakau (Scylla serrata)
Klasifikasi Kepiting Bakau (Scylla serrata)
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Portunidae
Genus : Scylla
Spesies ; Scylla serrata
2.3.3 Faktor Hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata)
Salinitas juga merupakan salah satu faktor pembatas pada metabolisme kepiting bakau mempengaruhi molalitas cairan di dalam tubuhnya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap proses fisiologis yang akan mempengaruhi kelangsungan hidup kepiting. Dengan demikian, untuk menghasilkan kepiting bakau dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi perlu dilakukan pengkajian terhadap aspek metabolismenya. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang metabolisme kepiting bakau pada berbagai salinitas.
2.3.4 Budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata)
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produksi dalam suatu usaha budidaya kepiting soka adalah prosentase moulting, laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Faktor-faktor tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal (Hastuti et al., 2017) Faktor internal meliputi keturunan, umur, kecepatan pertumbuhan relatif, jenis kelamin, reproduksi, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan untuk memanfaatkan pakan. Sedangkan faktor eksternal meliputi kualitas air, kepadatan dan jumlah serta komposisi asam amino/protein yang terkandung dalam pakan
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Interakti antara manusia dan biota laut sangat erat kaitannya. Sumberdaya hayati laut terdiri dari tiga ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem adalah hubungan antara faktor biotik dan abiotik yang saling berhubungan satu sama lain. Struktur susunan ekosistem dari darat ke laut dimulai dari ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang, dimana ketiga ekosistem ini berperan penting bagi pesisir sebagai pelindung garis pantai dari gelombang laut. Ketiga ekosistem ini juga memiliki cir-ciri yang berbeda satu sama lain, baik ciri-ciri substratnya maupun ciri-ciri biota yang hidup didalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ariadi, H., Wafi, A., Supriatna., & Musa, M. 2021. Tingkat difusi oksigen selama periode blind feed- ing budidaya intensif udang vaname (Litopenaeus vannamei). Rekayasa 14(2): 152-158.
Diatin I, I. Effendi, Y. Hadiroseyani, T. Budiardi, V.R. Hernanda, Nidwidyanthi, A.Vinasyiam. 2022. Availability of puerulus from natural catch for lobster Panulirus spp. nursery culture Jurnal Akuakultur Indonesia. 21(2): 133–14.
Hastuti, Y.P. 2014. Nitrifikasi dan denitrifikasi di tambak. Journal of Aquatic Science. 4: 157‒178.
Koesharyani, I., Gardenia, L., & Lasmika, N. L. A. 2016. Molecular Detection and Cloning for Rickettsia - Like Bacteria of Milky Haemolymph Disease of Spiny Lobster Panulirus spp. Indonesian Aquaculture Journal. 11(2): 81 – 86.
Lukwambe, B., Nicholaus, R., Zhang, D., Yang, W., Zhu, J., & Zheng, Z. 2019. Successional changes of microalgae community in response to commer- cial probiotics in the intensive shrimp (Litopenaeus vannamei Boone) culture systems. Aquaculture. 511: 734257.
Marwati, A. Hamid, and H. Arami. 2019. "Keanekaragaman Jenis Krustasea Pada Padang Lamun Di Perairan Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan." Jurnal Managemen Sumber Daya Perikanan. 3(2): 83-91.
Nababan, E., Putra I., dan Rusliadi. 2015. Pemeliharaan udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan persentase pemberian pakan yang berbeda. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 3 No. 2. Universitas Riau.
Wahyukinasih, M. H., C. Wulandari. dan S. Herwanti. 2014. Analisis kelayakan usahaberbasis hasil hutan bukan kayu ekosistem mangrove di Desa Margasari Lampung Timur. Jurnal Sylva Lestari. 2(2): 41-48
WWF. 2015. Perikanan lobster laut. WWF-Indonesia. ISBN 978-979-1461-68-9
#Ilmukelautan
#IlmuKelautanUnib
#YarJohan