Minggu, 25 Februari 2024

MANUSIA & BIOTA LAUT

oleh Arnold Willyarto (E1I023022)

 “Setiap mengambil sumber daya laut satu kali, manusia bertanggungjawab mengembalikannya satu kali juga. Pilihlah langkah-langkah yang berkelanjutan.”

 

I. PENDAHULUAN

        Biologi laut merupakan cabang ilmu biologi mengkaji tentang biota-biota yang air asin (air laut), keanekaragaman flora fauna yang ada di laut dan sekitarnya, prinsip-prinsip biologi yang mengatur organisasi dan kelangsungan hidup organisme serta interaksinya terhadap lingkungan sekitar (Zamani et al., 2020).

        Biota Laut adalah semua makhluk yang hidup di laut, baik hewan, tumbuhan, maupun karang. Secara umum biota laut terbagi menjadi tiga kelompok utama yaitu plankton, nekton, dan benthos. Pada pembagian ini tidak ada hubungannya dengan klasifikasi ilmiah, ukuran, hewan atau tumbuhan. Tetapi pengklasifikasian ini berdasarkan pada kebiasaan hidup umum seperti berjalan, gaya hidup, dan persebaran menurut ekologi (Jalaludin dkk., 2020).

 

II. ISI

2.1 Pengertian Tumbuhan atau Sumber Daya Hayati

        Sumberdaya hayati laut terdiri dari tiga ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem adalah hubungan antara faktor biotik dan abiotik yang saling berhubungan satu sama lain. Struktur susunan ekosistem dari darat ke laut dimulai dari ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang, dimana ketiga ekosistem ini berperan penting bagi pesisir sebagai pelindung garis pantai dari gelombang laut. Ketiga ekosistem ini juga memiliki cir-ciri yang berbeda satu sama lain, baik ciri-ciri substratnya maupun ciri-ciri biota yang hidup didalamnya.

2.1.1 Rumput Laut

        Rumput Laut merupakan salah satu tumbuhan yang hidup di daerah perairan yang tidak memiliki akar, batang maupun daun sejati. Rumput Laut memiliki bentuk struktur tubuh yang mirip, walaupun sebenarnya berbeda yang disebut sebagai thallus. Tumbuhan ini hidup dengan cara menempel pada substrat dasar luat atau benda lain yang berada di daerah pasang surut. Saat ini rumput laut sudah banyak dibudidayakan oleh para petani rumput laut, dikarenakan rumput laut  memiliki nilai ekonomis serta peluang yang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk, salah satunya sebagai kosmetik (Yanuarti, Nurjanah, Anwar dan Pratama, 2017)    

2.1.2 Padang Lamun

        Padang lamun merupakan ekosistem laut yang terdiri dari tumbuhan berjenis rumput laut yang tumbuh di perairan dangkal, terutama di sepanjang pantai dan laguna. Padang lamun memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman hayati laut dan ekosistem pesisir. Tumbuhan lamun seperti rumput laut menyediakan tempat berlindung dan tempat berkembang biak bagi berbagai spesies ikan dan invertebrata. Ekosistem ini juga berkontribusi pada siklus nutrisi laut dan membantu menjaga kualitas air. Sayangnya, padang lamun seringkali terancam oleh aktivitas manusia seperti polusi, pendangkalan pantai, dan kerusakan habitat, sehingga perlindungan dan pelestarian padang lamun menjadi sangat penting (Marwati dkk., 2019)..

2.1.3 Mangrove

            Mangrove adalah tumbuhan yang tumbuh di wilayah pesisir, terutama di muara sungai dan daerah berair payau. Mangrove memiliki akar udara yang unik yang memungkinkannya hidup di lingkungan yang tergenang air atau lumpur. Ekosistem mangrove memberikan perlindungan bagi hewan-hewan pesisir, termasuk berbagai jenis ikan, moluska, dan burung. Selain itu, mangrove berperan sebagai barier alami yang membantu melindungi pantai dari abrasi dan badai. Ekosistem ini juga memiliki nilai ekonomi dengan memberikan kayu, bahan bakar, dan sumber daya alam lainnya kepada masyarakat lokal. Perlindungan dan pelestarian mangrove menjadi penting untuk mendukung keseimbangan ekosistem pesisir dan melindungi biodiversitas laut (Kusmana, 2016)

2.1 HEWAN LAUT

2.1 Lobster pasir (Panulirus homacus)

2.1.1 Pengertian Lobster pasir (Panulirus homacus)

        Lobster pasir (Panulirus homacus) hidup pada perairan berkarang yang dangkal, dalam lubang-lubang, dan berkelompok dalam jumlah yang banyak. Lobster banyak ditemukan di te- rumbu karang karena sebagai pelindung dari ombak, tempat bersembunyi dari pre- dator, dan sebagai daerah mencari makan (Setyanto et al., 2018).

2.1.2 Klasifikasi Lobster pasir (Panulirus homacus)

Klasifikasi lobster pasir (WWF, 2015) dan tata nama lobster pasir secara ilmiah dalam taksonomi adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum       : Arthrophoda

Subfilum : Crustacea

Kelas       : Malacostraca

Bangsa     Decaphoda

Suku        : Palinuridae

Genus      : Panulirus

Spesies     : Panulirus homarus

2.1.3 Faktor Hidup Lobster pasir (Panulirus homacus)

        Lobster pasir (Panulirus homacus) hidup pada perairan berkarang yang dangkal, dalam lubang-lubang, dan berkelompok dalam jumlah yang banyak. Lobster banyak ditemukan di te- rumbu karang karena sebagai pelindung dari ombak, tempat bersembunyi dari pre- dator, dan sebagai daerah mencari makan (Setyanto et al., 2018). Kelimpahan plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik terdiri atas pola siklus hidup, penyebaran, dan toleransi terhadap faktor lingkungan. Adapun faktor abiotik seperti faktor fisika dan kimia perairan, tipe substrat, dan ketersediaan makanan (Wandira et al., 2020). Kondisi perairan biasanya lebih disukai oleh lobster pasir pada lobster pasir kisaran salinitas 35 ̶ 37 ppt. Tingkat salinitas secara signifikan mempengaruhi mereka secara biologis dan terlalu banyak air tawar dapat menyebabkan sel mereka membengkak dan dapat menyebabkan kematian (Seneviratna et al. 2017).

2.1.4 Budidaya Lobster pasir (Panulirus homacus)

        Ketersediaan pakan ikan rucah yang tidak kontinyu dan harganya mahal pada musim-musim tertentu. Ikan rucah pada saat cuaca normal, dapat dengan mudah didapat dengan penangkapan. Pada kegiatan budidaya, khususnya stadia pembesaran, pakan adalah salah satu faktor penting yang harus diperhatikan (Diatin, dkk., 2021), oleh karena itu diperlukan upaya introduksi dan pelatihan fokus materi tentang pakan lobster kepada para calon pembudidaya. Adapun materi yang diberikan yaitu budidaya lobster laut secara umum adalah pengenalan umum Keramba Jaring Apung (KJA) modern dan pedoman pemanfaatannya, teknik budidaya benih-benih lobster (BBL) atau pendederan, teknik budidaya lobster remaja/pembesaran, teknologi pakan dan pengendalian parasit dan penyakit.

2.1.5 Bahaya Dan Kerusakan Lobster pasir (Panulirus homacus)

        Lobster yang sering terserang MHD - SL di kawasan ini  adalah lobster pasir ( Panulirus homarus ) dan lobster mutiara  ( Panulirus ornatus ). Menurut, Koesharyani  et al. (2016),  deteksi MHD - SL sering ditemukan pada kedua lobster  tersebut. Harga lobster  pasir relatif murah dibandingkan dengan lobster mutiara dan  minat masyarakat akan lobster pasir lebih tinggi dibandingkan dengan lobster m utiara, maka pada penelitian  ini menggunakan lobster pasir untuk menyesuaikan dengan  harga dan  minat masyarakat akan lobster

2.2 Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

2.2.1 Pengertian Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

            Udang vaname (Litopenaeus vannamei) berasal dari Pantai Barat Pasifik Amerika Latin, mulai dari Peru di Selatan hingga Utara Meksiko. Udang vaname mulai masuk ke Indonesia dan dirilis secara resmi pada tahun 2001. Udang vaname merupakan salah satu udang yang mempunyai nilai ekonomis dan merupakan jenis udang alternatif yang dapat dibudidayakan di Indonesia, disamping udang windu (Panaeus monodon) dan udang putih (Panaeus merguensis). Udang vaname tergolong mudah untuk dibudidayakan. Hal itu pula yang membuat para petambak udang di tanah air beberapa tahun terakhir banyak yang mengusahakannya (Nababan dkk., 2015).

2.2.1 Klasifikasi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) :

Klasifikasi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) :

Kindom   : Animalia

Filum       : Arthropoda

Subfilum : Crustacea

Kelas       : Malacostraca

Ordo       : Decapoda

Famili     : Penaeidae

Genus     : Litopenaeus

Spesies   : Litopenaeus vannamei

2.2.3 Faktor Hidup Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

            Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan penggelondongan udang vaname adalah kapadatan penebaran. Padat tebar yang tinggi akan meningkatkan kandungan bahan organik akibat penumpukan sisa pakan dan sisa metabolisme sehingga udang akan stres dan mudah terinfestasi ektoparasit dan dapat berakhir dengan kematian. Selain itu factor lain yang mempengaruhi keberhasilan penggelondong adalah kualitas air, pakan dan ketersediaan oksigen. Dari berbagai metode yang dilakukan oleh penggelondong ini seringkali tidak diperhatikan karena kurangnya fasilitas dan pemahaman tentang pentingnya pemeliharaan benur udang baik dari petak penggelondongan hingga ke petak pembesaran nantinya. Diharapkan dengan dilakukannya penelitian ini akan sedikit membantu penggelondong tentang bagaimana perlakuan yang diberikan dalam pemeliharaan benur udang vaname khususnya dalam hal penentuan padat tebar baik dalam petak penggelondongan hingga petak pembesara

2.2.4 Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

            Budidaya udang vaname, L. vannamei telah berkembang secara pesat di beberapa negara Asia Tenggara (Lukwambe et al., 2019). Budidaya udang vaname mayoritas dilakukan secara intensif dengan tingkat padat tebar yang sangat tinggi (Ariadi et al., 2021) budidaya udang vaname yang panjang akan membuat keberadaan limbah organik menjadi semakin menumpuk dan membuat keberadaan komunitas bakteri Vibrio sp. tumbuh dengan baik. Berdasarkan hasil analisis causal loop model menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri Vibrio sp. diestimasi memiliki fluktuasi yang dinamis mengikuti pola tingkat metabolisme biologis, serta faktor adaptasi fisiologis dari bakteri itu sendiri terhadap kondisi lingkungan sekitar. Kondisi ini membuat tingkat infeksi bakteri Vibrio sp. pada ekosistem tambak udang vaname menjadi akan semakin oportunis seiring dengan lamanya masa siklus budidaya udang.

2.1.5 Bahaya Dan Kerusakan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

2.3. Kepiting Bakau (Scylla serrata)

2.3.1 Pengertian Kepiting Bakau (Scylla serrata)

        Kepiting bakau (Scylla) adalah sejenis kepiting yang hidup di ekosistem hutan bakau dan estuaria, anggota suku Portunidae. Kepiting yang mempunyai nilai ekonomis penting ini didapati di pantai-pantai pesisir Afrika, Asia dan Australia. Dalam bahasa Inggris ia dikenal sebagai mangrove crab, mud crab, dan juga Indo-Pacific swamp crab.

2.3.2 Klasifikasi Kepiting Bakau (Scylla serrata)

Klasifikasi Kepiting Bakau (Scylla serrata)

Kerajaan : Animalia

Filum      : Arthropoda

Subfilum : Crustacea

Kelas       : Malacostraca

Ordo        : Decapoda

Famili     : Portunidae

Genus     : Scylla

Spesies    ; Scylla serrata

2.3.3 Faktor Hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata)

            Salinitas juga merupakan salah satu faktor pembatas pada metabolisme  kepiting bakau mempengaruhi molalitas cairan di dalam  tubuhnya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap proses fisiologis yang akan  mempengaruhi kelangsungan hidup  kepiting. Dengan demikian, untuk  menghasilkan kepiting bakau dengan  tingkat kelangsungan hidup yang tinggi  perlu dilakukan pengkajian terhadap  aspek metabolismenya. Sehubungan  dengan hal tersebut, perlu dilakukan  penelitian tentang metabolisme kepiting  bakau pada berbagai salinitas.

2.3.4 Budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata)

            Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produksi dalam suatu usaha budidaya kepiting soka adalah prosentase moulting, laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Faktor-faktor tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal (Hastuti et al., 2017) Faktor internal meliputi keturunan, umur, kecepatan pertumbuhan relatif, jenis kelamin, reproduksi, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan untuk memanfaatkan pakan. Sedangkan faktor eksternal meliputi kualitas air, kepadatan dan jumlah serta komposisi asam amino/protein yang terkandung dalam pakan

 

III. PENUTUP 

3.1 Kesimpulan 

Interakti antara manusia dan biota laut sangat erat kaitannya. Sumberdaya hayati laut terdiri dari tiga ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem adalah hubungan antara faktor biotik dan abiotik yang saling berhubungan satu sama lain. Struktur susunan ekosistem dari darat ke laut dimulai dari ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang, dimana ketiga ekosistem ini berperan penting bagi pesisir sebagai pelindung garis pantai dari gelombang laut. Ketiga ekosistem ini juga memiliki cir-ciri yang berbeda satu sama lain, baik ciri-ciri substratnya maupun ciri-ciri biota yang hidup didalamnya.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Ariadi, H., Wafi, A., Supriatna., & Musa, M. 2021. Tingkat difusi oksigen selama periode blind feed- ing budidaya intensif udang vaname (Litopenaeus vannamei). Rekayasa 14(2): 152-158.

Diatin I, I. Effendi, Y. Hadiroseyani, T. Budiardi, V.R. Hernanda, Nidwidyanthi, A.Vinasyiam. 2022. Availability of puerulus from natural catch for lobster Panulirus spp. nursery culture Jurnal Akuakultur Indonesia. 21(2): 133–14.

Hastuti, Y.P. 2014. Nitrifikasi dan denitrifikasi di tambak. Journal of Aquatic Science. 4: 157‒178.

Koesharyani, I., Gardenia, L., & Lasmika, N. L. A. 2016.  Molecular Detection and Cloning for Rickettsia - Like  Bacteria of Milky Haemolymph  Disease of Spiny Lobster Panulirus spp. Indonesian Aquaculture Journal.  11(2): 81 – 86.

Lukwambe, B., Nicholaus, R., Zhang, D., Yang, W., Zhu, J., & Zheng, Z. 2019. Successional changes of microalgae community in response to commer- cial probiotics in the intensive shrimp (Litopenaeus vannamei Boone) culture systems. Aquaculture. 511: 734257.

Marwati, A. Hamid, and H. Arami. 2019. "Keanekaragaman Jenis Krustasea Pada Padang Lamun Di Perairan Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan." Jurnal Managemen Sumber Daya Perikanan. 3(2): 83-91.

Nababan, E., Putra I., dan Rusliadi. 2015. Pemeliharaan udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan persentase pemberian pakan yang berbeda. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 3 No. 2. Universitas Riau.

Wahyukinasih, M. H., C. Wulandari. dan S. Herwanti. 2014. Analisis kelayakan usahaberbasis hasil hutan bukan kayu ekosistem mangrove di Desa Margasari Lampung Timur. Jurnal Sylva Lestari. 2(2): 41-48

WWF. 2015. Perikanan lobster laut. WWF-Indonesia. ISBN 978-979-1461-68-9


#Ilmukelautan 

#IlmuKelautanUnib

#YarJohan

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 10 Februari 2024

KEHIDUPAN DI LAUT

 Oleh Arnold Willyarto (E1I023022)

 

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Biologi laut merupakan cabang ilmu biologi mengkaji tentang biota-biota yang air asin (air laut), keanekaragaman flora fauna yang ada di laut dan sekitarnya, prinsip-prinsip biologi yang mengatur organisasi dan kelangsungan hidup organisme serta interaksinya terhadap lingkungan sekitar (Zamani et al., 2020).

Ekosistem merupakan suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem adalah suatu hubungan timbal balik yang kompleks antara makhluk hidup dengan lingkungan, baik yang hidup (hewan, tumbuhan, manusia, dan mikroba) maupun mati (air, tanah, udara, dan kimia fisik). Yang secara bersamaan membentuk suatu system ekologi. Setiap makhluk hidup memerlukan tempat untuk kelangsungan hidupnya (Natty dan Demak, 2015).

Ekosistem laut disebut juga ekosistem bahari yang merupakan ekosistem yang terdapat di perairan laut, terdiri atas ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal/bitarol, dan ekosistem pasang surut. Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam dalam suatu perairan) yang tinggi dengan ion CImencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi (Arianto, 2017). 

 

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan tugas individu ini adalah untuk menambah pengetahuan dan informasi penulis mengenai Jenis Plankton, Nekton, dan Bentos serta mengetahui faktor pembatas hidup dari biota laut tersebut.

 

 

II. ISI

2.1. PLANKTON

2.1.1 Pengertian Plankton

Plankton berasal dari bahasa Yunani, di mana "planktos" berarti "yang mengambang" atau "yang melayang". Istilah ini digunakan pertama kali oleh ahli biologi yaitu Viktor Hensen pada tahun 1887. Plankton mengacu pada organisme mikroskopis atau kecil yang mengapung atau melayang di perairan, baik di laut maupun di air tawar. Organisme planktonik dapat berupa alga, protozoa, larva hewan, atau hewan kecil seperti krustasea. Plankton merupakan golongan organisme yang hidup di perairan dan bergerak mengikuti arus. Berdasarkan definisi tersebut plankton ada yang berukuran mikroskopis sampai makroskopis. Penemuan plankton merupakan peristiwa penting lainnya dalam perkembangan biologi akuatik, meskipun tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama mendeskripsikan plankton (Hertika dkk., 2021).

 

2.1.2 Jenis – Jenis Plankton

Plankton merupakan organisme yang hidupnya sebagai hewan atau tumbuhan yang melayang-layang dalam air dan mengikuti pergerakan arus serta berperan penting dalam menunjang kehidupan di perairan. Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah mikroorganisme nabati yang hidup melayang- melayang di dalam air, relatif tidak mempunyai daya gerak, sehingga keberadaannya dipengaruhi oleh gerakan air dan mampu berfotosistesis. Terdapat beberapa macam fitoplankton yang meliputi berbagai ragam ukuran dan bentuk. Fitoplankton merupakan tumbuhan yang memegang keranan sangat penting pada ekosistem air, karena kelompok ini dengan adanya kandungan klorofil mampu melakukan fotosistesis. Proses fotosistesis pada ekosistem air yang dilakukan oleh fitoplankton (produsen) merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompok organisme air lainnya yang berperan sebagai konsumen, dimulai dengan zooplankton dan diikuti oleh kelompok organisme air lainnya yang membentuk rantai makanan (Burhanuddin, 2019)

 

2.1.3 Faktor Faktor Pembatas

a. Suhu

Suhu merupakan salah faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital, yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi di dalam kisaran suhu antara 0-40°C. Tetapi ada juga organisme yang mampu mentolerir suhu sedikit diatas dan di bawah batas-batas tersebut. Kebanyakan organisme laut telah mengalami adaptasi untuk hidup dan berkembang biak dalam kisaran suhu yang relatif sempit dari pada kisaran total 0- 400C. Karena sebagian besar organisme laut juga bersifat poikilotermik dan suhu air laut bervariasi menurut garis lintang, maka penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu lautan secara geografik. Suhu sangat berpengaruh terhadap kerapatan air laut. Air laut yang hangat kerapatannya lebih rendah dari pada air laut yang dingin pada salinitas yang sama. Perbedaan kerapatan tersebut sangat mempengaruhi distribusi hewan laut (Hutabarat dan Evans, 2017)

b. Arus

Gerakan air dalam hal ini arus mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap organisme dan komunitas. Pengaruh ini sangat nyata. Aktivitas arus mempunyai kehidupan laut yaitu menghanyutkan benda yang terkena termasuk biota laut yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus

c. Kecerahan

Kecerahan merupakan kondisi perairan yang menggambarkan sifat optik air yang dapat ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kecerahan dapat disebabkan oleh adanya bahan organik maupun anorganik yang tersuspensi dan terlarut (Pratiwi et al., 2015)

d. Salinitas

Salinitas adalah berat garam dalam per kilogram air laut. Zat-zat terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi membentuk menjadi empat kelompok, yakni konstituen utama, gas terlarut, unsur hara dan unsur runut. Kontituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari tiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat - zat ini banyak ditentukan oleh aktifitas kehidupan di laut (Rominohtato dan Juwana, 2

d. ph

Keberadaan unsur hara di perairan, dalam hal ini fosfor dipengaruhi oleh pH. jika pH laut air laut besar dari 8,0 (dalam lingkungan alkalis)maka organik fosfor akan mengalami proses pengurain (proses hidrolisa) membentuk anorganik fosfor. Perubahan pH air laut dapat menyebabkan perubahan sistem kesetimbangan CO2 laut. Sistem kesetimbangan CO2 disebut sebagai sistem penyangga atau sebagai buffer sistem yang mempunyai peranan di dalam peraturan pH air laut (Rahardjo dan Sunusi, 1982).Keberadaan unsur hara di perairan, dalam hal ini fosfor dipengaruhi oleh pH. jika pH laut air laut besar dari 8,0 (dalam lingkungan alkalis)maka organik fosfor akan mengalami proses pengurain (proses hidrolisa) membentuk anorganik fosfor. Perubahan pH air laut dapat menyebabkan perubahan sistem kesetimbangan CO2 laut. Sistem kesetimbangan CO2 disebut sebagai sistem penyangga atau sebagai buffer sistem yang mempunyai peranan di dalam peraturan pH air laut (Rahardjo dan Sunusi, 1982).\

 

2.2. NEKTON

2.2.1 Pengertian Nekton

Nekton "nekton" berasal dari bahasa Yunani "nekton", yang juga berarti "berenang". Istilah  ini digunakan untuk menggambarkan organisme yang aktif secara pergerakan dan dapat mengendalikan posisi mereka di perairan. Plankton adalah makanan nekton yang hidup di lapisan hypolimniondan thermocline di perairan tersebut. Sementara itu, istilah "bentos" juga berasal dari bahasa Yunani, yaitu "benthos", yang berarti "dasar laut". Bentos merujuk pada organisme yang hidup di atau dekat dasar laut, baik di laut dalam maupun di perairan dangkal (Rochmad, S., 2016).

 

2.2.2 Jenis – Jenis Nekton

Nekton adalah organisme yang aktif secara pergerakan dan dapat berenang dengan bebas di dalam air. Mereka mendiami berbagai lapisan air, mulai dari permukaan hingga kedalaman yang lebih dalam. Contoh nekton meliputi ikan, paus, lumba-lumba, hiu, cumi-cumi, dan sebagian besar hewan laut besar lainnya. Di dalam sungai juga hidup organisme air terdiri dari: bentos (makrozoobentos dan mikrozoobentos), sesil, nekton, neuston,plankton (zooplankton dan fitoplankton), perifiton (Siagian dkk., 2023).

 

2.2.3 Faktor Faktor Pembatas

a. Suhu

Suhu merupakan salah faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital, yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi di dalam kisaran suhu antara 0-40°C. Tetapi ada juga organisme yang mampu mentolerir suhu sedikit diatas dan di bawah batas-batas tersebut. Kebanyakan organisme laut telah mengalami adaptasi untuk hidup dan berkembang biak dalam kisaran suhu yang relatif sempit dari pada kisaran total 0- 400C. Karena sebagian besar organisme laut juga bersifat poikilotermik dan suhu air laut bervariasi menurut garis lintang, maka penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu lautan secara geografik. Suhu sangat berpengaruh terhadap kerapatan air laut. Air laut yang hangat kerapatannya lebih rendah dari pada air laut yang dingin pada salinitas yang sama. Perbedaan kerapatan tersebut sangat mempengaruhi distribusi hewan laut (Hutabarat dan Evans, 2017)

b. Arus

Gerakan air dalam hal ini arus mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap organisme dan komunitas. Pengaruh ini sangat nyata. Aktivitas arus mempunyai kehidupan laut yaitu menghanyutkan benda yang terkena termasuk biota laut yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Arus laut membwa produsen ekosistem laut yang sangat penting, yaitu fitoplankton (Nybakken, 2014).

c. Kecerahan

Kecerahan merupakan kondisi perairan yang menggambarkan sifat optik air yang dapat ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kecerahan dapat disebabkan oleh adanya bahan organik maupun anorganik yang tersuspensi dan terlarut (Pratiwi et al., 2015)

d. Salinitas

Salinitas adalah berat garam dalam per kilogram air laut. Zat-zat terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi membentuk menjadi empat kelompok, yakni konstituen utama, gas terlarut, unsur hara dan unsur runut. Kontituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari tiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat - zat ini banyak ditentukan oleh aktifitas kehidupan di laut (Rominohtato dan Juwana, 2uwana, 2014).

d. ph

Keberadaan unsur hara di perairan, dalam hal ini fosfor dipengaruhi oleh pH. jika pH laut air laut besar dari 8,0 (dalam lingkungan alkalis)maka organik fosfor akan mengalami proses pengurain (proses hidrolisa) membentuk anorganik fosfor. (Fajar dan Rudiyanti, 2016).

 

2.3. BENTHOS

2.3.1 Pengertian Benthos

Bentos merupakan organisme yang hidupnya menempel atau dalam substrat, baik pada substrat pasir, lumpur kerikil , maupun batuan. Bentos hidup relatif menetap, sehingga dapat digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Bentos ini juga memegang peranan penting di dalam perairan seperti penghancur dan menetralisasi material organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapatingkatan dalam rantai makanan (Zikri1, dkk,. 2023.)

2.3.2 Jenis – Jenis Benthos

Berdasarkan lokasi bentos, dapat dibagi menjadi empat jenis: Epifauna, yaitu bentos yang berasosiasi dengan permukaan padat atau keras dari suatu substrat; Infauna atau Endofauna, yaitu bentos yang hidup didalam sedimen; Nekton, yaitu bentos yang secara normal hidup dengan cara berenang bebas; serta Neuston yaitu bentos yang hidup di permukaan air (Dwirastina & Yoga, 2018).

 

2.3.3 Faktor Faktor Pembatas

a. Suhu

Suhu merupakan salah faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital, yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi di dalam kisaran suhu antara 0-40°C. Tetapi ada juga organisme yang mampu mentolerir suhu sedikit diatas dan di bawah batas-batas tersebut. Kebanyakan organisme laut telah mengalami adaptasi untuk hidup dan berkembang biak dalam kisaran suhu yang relatif sempit dari pada kisaran total 0- 400C. Karena sebagian besar organisme laut juga bersifat poikilotermik dan suhu air laut bervariasi menurut garis lintang, maka penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu lautan secara geografik. Suhu sangat berpengaruh terhadap kerapatan air laut. Air laut yang hangat kerapatannya lebih rendah dari pada air laut yang dingin pada salinitas yang sama. Perbedaan kerapatan tersebut sangat mempengaruhi distribusi hewan laut (Hutabarat dan Evans, 2017)

b. Arus

Gerakan air dalam hal ini arus mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap organisme dan komunitas. Pengaruh ini sangat nyata. Aktivitas arus mempunyai kehidupan laut yaitu menghanyutkan benda yang terkena termasuk biota laut yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Arus laut membwa produsen ekosistem laut yang sangat penting, yaitu fitoplankton (Nybakken, 2014).

c. Kecerahan

Kecerahan merupakan kondisi perairan yang menggambarkan sifat optik air yang dapat ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kecerahan dapat disebabkan oleh adanya bahan organik maupun anorganik yang tersuspensi dan terlarut (Pratiwi et al., 2015)

d. Salinitas

Salinitas adalah berat garam dalam per kilogram air laut. Zat-zat terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi membentuk menjadi empat kelompok, yakni konstituen utama, gas terlarut, unsur hara dan unsur runut. Kontituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari tiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat - zat ini banyak ditentukan oleh aktifitas kehidupan di laut (Rominohtato dan Juwana, 2uwana, 2014).

d. ph

Keberadaan unsur hara di perairan, dalam hal ini fosfor dipengaruhi oleh pH. jika pH laut air laut besar dari 8,0 (dalam lingkungan alkalis)maka organik fosfor akan mengalami proses pengurain (proses hidrolisa) membentuk anorganik fosfor (Fajar dan Rudiyanti, 2016).

 

III. PENUTUP 

3.1 Kesimpulan

Plankton merupakan organisme kecil yang melayang di dalam badan air pada perairan dan memiliki kemampuan bergerak yang pasif. Kehadiran komunitas plankton pada perairan dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi lingkungan perairan tersebut. Nekton adalah suatu kelompok organisme yang tinggal di dalam kolom air, baik di perairan tawar maupun laut.  Bentos merupakan hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas atau di bawah dasar laut atau pada wilayah yang disebut lubuk maupun dasar daerah tepian.

 

3.2. Saran

Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya plankton, nekton, dan bentos dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut. Kita dapat melakukan upaya perlindungan terhadap habitat-habitat utama plankton, nekton, dan bentos, seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan zona pesisir, untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan.

 

 

 DAFTAR PUSTAKA

Arianto, H. (2017). Urgensi Perlindungan Ekosistem Laut Terhadap Bahaya Ilegal Fishing. Lex Jurnalica, 14(3), 184-191

Burhanuddin I.A. 2019. Biologi Kelautan. Yogyakarta; Lily Publisher, Edisi I. Dengan Suhu Perairan Laut Di Sekitar PLTU Cirebon. Jurnal Perikanan Kelautan

Dwirastina, M, & Yoga, C. D. 2018. Penilaian Kualitas Perairan Ditinjau dari Keanekaragaman Infauna di Sungai Kumbe, Papua. Limnotek. 25(1): 30-38.

Fajar N. G. M., Rudiyanti S. A’in C. 2016. Pengaruh Unsur Hara Terhadap Kelimpahan Faturohman Ikhsan, Sunarto, I. Nurruhwati. 2016.

Hertika, A. M. S., Arsad, S., & Putra, R. B. D. S. (2021). Ilmu tentang Plankton dan Peranannya di Lingkungan Perairan. Universitas Brawijaya Press.

Hutabarat, S. Dan S.M., Evans. 2017. Pengantar Oseanografi. UI Press. Jakarta.

Netty, demak h sitanggang (2015). Peningkatan Hasil Belajar Ekosistem Melalui Penggunaan Laboratorium Alam‟, Jurnal Formatif, 5.(2): 156

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan Oleh H. Muhammad Eidman. PT Gramedia. Jakarta. 480 hlm

Pratiwi D. W., Koenawan J. C., Zulfikar A. 2015. Hubungan Kelimpahan Plankton

Rochmad, S. (2016) Ruang lingkup pencemaran, Pencemaran Lingkungan, 1

Romimohtarto, K dan S. Juwana. 2005. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan. Jakarta

Siagian, E. T., Manik, R. R. D. S., & Sinaga, M. P. (2023). Studi Keanekaragaman Makrozoobentos Di Sungai Tanjung Pinggir Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematang Siantar Provinsi Sumatera Utara. JURNAL WILAYAH, KOTA DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN, 2(2), 10-27

Zamani, N. P., Subhan, B., Meutia Samira Ismet, & Maduppa, H. (2020). Buku Panduan Praktikum Biologi Laut Edisi Revisi (1st ed.). IPB Press (Biologi laut)

Zikri,I. A, Nurhadi, & Abizar. 2023. Bentos yang Ditemukan Dikawasan Air Terjun Kawasan Sungai Geringging Kabupaten Padang Pariaman. Jurnal Pendidikan Tambusai. 7(3): 21562-21566.

 

#ilmukelautanunib #ilmukelautan #YarJohan

ISTILAH DALAM CARA MAKAN BIOTA LAUT

”ISTILAH DALAM POLA CARA MAKAN HEWAN LAUT”   Dalam ekologi laut, organisme tidak hanya diklasifikasikan berdasarkan jenis atau taksonominy...