Oleh Arnold Willyarto (E1I023022)
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Biologi laut merupakan cabang ilmu biologi mengkaji tentang biota-biota yang air asin (air laut), keanekaragaman flora fauna yang ada di laut dan sekitarnya, prinsip-prinsip biologi yang mengatur organisasi dan kelangsungan hidup organisme serta interaksinya terhadap lingkungan sekitar (Zamani et al., 2020).
Ekosistem merupakan suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem adalah suatu hubungan timbal balik yang kompleks antara makhluk hidup dengan lingkungan, baik yang hidup (hewan, tumbuhan, manusia, dan mikroba) maupun mati (air, tanah, udara, dan kimia fisik). Yang secara bersamaan membentuk suatu system ekologi. Setiap makhluk hidup memerlukan tempat untuk kelangsungan hidupnya (Natty dan Demak, 2015).
Ekosistem laut disebut juga ekosistem bahari yang merupakan ekosistem yang terdapat di perairan laut, terdiri atas ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal/bitarol, dan ekosistem pasang surut. Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam dalam suatu perairan) yang tinggi dengan ion CImencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi (Arianto, 2017).
1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan tugas individu ini adalah untuk menambah pengetahuan dan informasi penulis mengenai Jenis Plankton, Nekton, dan Bentos serta mengetahui faktor pembatas hidup dari biota laut tersebut.
II. ISI
2.1. PLANKTON
2.1.1 Pengertian Plankton
Plankton berasal dari bahasa Yunani, di mana "planktos" berarti "yang mengambang" atau "yang melayang". Istilah ini digunakan pertama kali oleh ahli biologi yaitu Viktor Hensen pada tahun 1887. Plankton mengacu pada organisme mikroskopis atau kecil yang mengapung atau melayang di perairan, baik di laut maupun di air tawar. Organisme planktonik dapat berupa alga, protozoa, larva hewan, atau hewan kecil seperti krustasea. Plankton merupakan golongan organisme yang hidup di perairan dan bergerak mengikuti arus. Berdasarkan definisi tersebut plankton ada yang berukuran mikroskopis sampai makroskopis. Penemuan plankton merupakan peristiwa penting lainnya dalam perkembangan biologi akuatik, meskipun tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama mendeskripsikan plankton (Hertika dkk., 2021).
2.1.2 Jenis – Jenis Plankton
Plankton merupakan organisme yang hidupnya sebagai hewan atau tumbuhan yang melayang-layang dalam air dan mengikuti pergerakan arus serta berperan penting dalam menunjang kehidupan di perairan. Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah mikroorganisme nabati yang hidup melayang- melayang di dalam air, relatif tidak mempunyai daya gerak, sehingga keberadaannya dipengaruhi oleh gerakan air dan mampu berfotosistesis. Terdapat beberapa macam fitoplankton yang meliputi berbagai ragam ukuran dan bentuk. Fitoplankton merupakan tumbuhan yang memegang keranan sangat penting pada ekosistem air, karena kelompok ini dengan adanya kandungan klorofil mampu melakukan fotosistesis. Proses fotosistesis pada ekosistem air yang dilakukan oleh fitoplankton (produsen) merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompok organisme air lainnya yang berperan sebagai konsumen, dimulai dengan zooplankton dan diikuti oleh kelompok organisme air lainnya yang membentuk rantai makanan (Burhanuddin, 2019)
2.1.3 Faktor Faktor Pembatas
a. Suhu
Suhu merupakan salah faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital, yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi di dalam kisaran suhu antara 0-40°C. Tetapi ada juga organisme yang mampu mentolerir suhu sedikit diatas dan di bawah batas-batas tersebut. Kebanyakan organisme laut telah mengalami adaptasi untuk hidup dan berkembang biak dalam kisaran suhu yang relatif sempit dari pada kisaran total 0- 400C. Karena sebagian besar organisme laut juga bersifat poikilotermik dan suhu air laut bervariasi menurut garis lintang, maka penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu lautan secara geografik. Suhu sangat berpengaruh terhadap kerapatan air laut. Air laut yang hangat kerapatannya lebih rendah dari pada air laut yang dingin pada salinitas yang sama. Perbedaan kerapatan tersebut sangat mempengaruhi distribusi hewan laut (Hutabarat dan Evans, 2017)
b. Arus
Gerakan air dalam hal ini arus mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap organisme dan komunitas. Pengaruh ini sangat nyata. Aktivitas arus mempunyai kehidupan laut yaitu menghanyutkan benda yang terkena termasuk biota laut yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus
c. Kecerahan
Kecerahan merupakan kondisi perairan yang
menggambarkan sifat optik air yang dapat ditentukan berdasarkan banyaknya
cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam
air. Kecerahan dapat disebabkan oleh adanya bahan organik maupun anorganik yang
tersuspensi dan terlarut (Pratiwi et al., 2015)
d. Salinitas
Salinitas adalah berat garam dalam per kilogram air laut. Zat-zat terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi membentuk menjadi empat kelompok, yakni konstituen utama, gas terlarut, unsur hara dan unsur runut. Kontituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari tiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat - zat ini banyak ditentukan oleh aktifitas kehidupan di laut (Rominohtato dan Juwana, 2
d. ph
Keberadaan unsur hara di perairan, dalam hal ini fosfor dipengaruhi oleh pH. jika pH laut air laut besar dari 8,0 (dalam lingkungan alkalis)maka organik fosfor akan mengalami proses pengurain (proses hidrolisa) membentuk anorganik fosfor. Perubahan pH air laut dapat menyebabkan perubahan sistem kesetimbangan CO2 laut. Sistem kesetimbangan CO2 disebut sebagai sistem penyangga atau sebagai buffer sistem yang mempunyai peranan di dalam peraturan pH air laut (Rahardjo dan Sunusi, 1982).Keberadaan unsur hara di perairan, dalam hal ini fosfor dipengaruhi oleh pH. jika pH laut air laut besar dari 8,0 (dalam lingkungan alkalis)maka organik fosfor akan mengalami proses pengurain (proses hidrolisa) membentuk anorganik fosfor. Perubahan pH air laut dapat menyebabkan perubahan sistem kesetimbangan CO2 laut. Sistem kesetimbangan CO2 disebut sebagai sistem penyangga atau sebagai buffer sistem yang mempunyai peranan di dalam peraturan pH air laut (Rahardjo dan Sunusi, 1982).\
2.2. NEKTON
2.2.1 Pengertian Nekton
Nekton "nekton" berasal dari bahasa Yunani "nekton", yang juga berarti "berenang". Istilah ini digunakan untuk menggambarkan organisme yang aktif secara pergerakan dan dapat mengendalikan posisi mereka di perairan. Plankton adalah makanan nekton yang hidup di lapisan hypolimniondan thermocline di perairan tersebut. Sementara itu, istilah "bentos" juga berasal dari bahasa Yunani, yaitu "benthos", yang berarti "dasar laut". Bentos merujuk pada organisme yang hidup di atau dekat dasar laut, baik di laut dalam maupun di perairan dangkal (Rochmad, S., 2016).
2.2.2 Jenis – Jenis Nekton
Nekton adalah organisme yang aktif secara pergerakan dan dapat berenang dengan bebas di dalam air. Mereka mendiami berbagai lapisan air, mulai dari permukaan hingga kedalaman yang lebih dalam. Contoh nekton meliputi ikan, paus, lumba-lumba, hiu, cumi-cumi, dan sebagian besar hewan laut besar lainnya. Di dalam sungai juga hidup organisme air terdiri dari: bentos (makrozoobentos dan mikrozoobentos), sesil, nekton, neuston,plankton (zooplankton dan fitoplankton), perifiton (Siagian dkk., 2023).
2.2.3 Faktor Faktor Pembatas
a. Suhu
Suhu merupakan salah faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital, yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi di dalam kisaran suhu antara 0-40°C. Tetapi ada juga organisme yang mampu mentolerir suhu sedikit diatas dan di bawah batas-batas tersebut. Kebanyakan organisme laut telah mengalami adaptasi untuk hidup dan berkembang biak dalam kisaran suhu yang relatif sempit dari pada kisaran total 0- 400C. Karena sebagian besar organisme laut juga bersifat poikilotermik dan suhu air laut bervariasi menurut garis lintang, maka penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu lautan secara geografik. Suhu sangat berpengaruh terhadap kerapatan air laut. Air laut yang hangat kerapatannya lebih rendah dari pada air laut yang dingin pada salinitas yang sama. Perbedaan kerapatan tersebut sangat mempengaruhi distribusi hewan laut (Hutabarat dan Evans, 2017)
b. Arus
Gerakan air dalam hal ini arus mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap organisme dan komunitas. Pengaruh ini sangat nyata. Aktivitas arus mempunyai kehidupan laut yaitu menghanyutkan benda yang terkena termasuk biota laut yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Arus laut membwa produsen ekosistem laut yang sangat penting, yaitu fitoplankton (Nybakken, 2014).
c. Kecerahan
Kecerahan merupakan kondisi perairan yang menggambarkan sifat optik air yang dapat ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kecerahan dapat disebabkan oleh adanya bahan organik maupun anorganik yang tersuspensi dan terlarut (Pratiwi et al., 2015)
d. Salinitas
Salinitas adalah berat garam dalam per kilogram air laut. Zat-zat terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi membentuk menjadi empat kelompok, yakni konstituen utama, gas terlarut, unsur hara dan unsur runut. Kontituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari tiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat - zat ini banyak ditentukan oleh aktifitas kehidupan di laut (Rominohtato dan Juwana, 2uwana, 2014).
d. ph
Keberadaan unsur hara di perairan, dalam hal ini fosfor dipengaruhi oleh pH. jika pH laut air laut besar dari 8,0 (dalam lingkungan alkalis)maka organik fosfor akan mengalami proses pengurain (proses hidrolisa) membentuk anorganik fosfor. (Fajar dan Rudiyanti, 2016).
2.3. BENTHOS
2.3.1 Pengertian Benthos
Bentos merupakan organisme yang hidupnya menempel atau dalam substrat,
baik pada substrat pasir, lumpur kerikil , maupun batuan. Bentos hidup relatif
menetap, sehingga dapat digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena
selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Bentos ini juga memegang
peranan penting di dalam perairan seperti penghancur dan menetralisasi material
organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapatingkatan dalam rantai makanan (Zikri1, dkk,. 2023.)
2.3.2 Jenis – Jenis Benthos
Berdasarkan lokasi bentos, dapat dibagi menjadi empat jenis: Epifauna, yaitu bentos yang berasosiasi dengan permukaan padat atau keras dari suatu substrat; Infauna atau Endofauna, yaitu bentos yang hidup didalam sedimen; Nekton, yaitu bentos yang secara normal hidup dengan cara berenang bebas; serta Neuston yaitu bentos yang hidup di permukaan air (Dwirastina & Yoga, 2018).
2.3.3 Faktor Faktor Pembatas
a. Suhu
Suhu merupakan salah faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital, yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi di dalam kisaran suhu antara 0-40°C. Tetapi ada juga organisme yang mampu mentolerir suhu sedikit diatas dan di bawah batas-batas tersebut. Kebanyakan organisme laut telah mengalami adaptasi untuk hidup dan berkembang biak dalam kisaran suhu yang relatif sempit dari pada kisaran total 0- 400C. Karena sebagian besar organisme laut juga bersifat poikilotermik dan suhu air laut bervariasi menurut garis lintang, maka penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu lautan secara geografik. Suhu sangat berpengaruh terhadap kerapatan air laut. Air laut yang hangat kerapatannya lebih rendah dari pada air laut yang dingin pada salinitas yang sama. Perbedaan kerapatan tersebut sangat mempengaruhi distribusi hewan laut (Hutabarat dan Evans, 2017)
b. Arus
Gerakan air dalam hal ini arus mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap organisme dan komunitas. Pengaruh ini sangat nyata. Aktivitas arus mempunyai kehidupan laut yaitu menghanyutkan benda yang terkena termasuk biota laut yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Arus laut membwa produsen ekosistem laut yang sangat penting, yaitu fitoplankton (Nybakken, 2014).
c. Kecerahan
Kecerahan merupakan kondisi perairan yang menggambarkan sifat optik air yang dapat ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kecerahan dapat disebabkan oleh adanya bahan organik maupun anorganik yang tersuspensi dan terlarut (Pratiwi et al., 2015)
d. Salinitas
Salinitas adalah berat garam dalam per kilogram air laut. Zat-zat terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi membentuk menjadi empat kelompok, yakni konstituen utama, gas terlarut, unsur hara dan unsur runut. Kontituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari tiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat - zat ini banyak ditentukan oleh aktifitas kehidupan di laut (Rominohtato dan Juwana, 2uwana, 2014).
d. ph
Keberadaan unsur hara di perairan, dalam hal ini fosfor dipengaruhi oleh pH. jika pH laut air laut besar dari 8,0 (dalam lingkungan alkalis)maka organik fosfor akan mengalami proses pengurain (proses hidrolisa) membentuk anorganik fosfor (Fajar dan Rudiyanti, 2016).
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Plankton merupakan organisme kecil yang melayang di dalam badan air pada perairan dan memiliki kemampuan bergerak yang pasif. Kehadiran komunitas plankton pada perairan dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi lingkungan perairan tersebut. Nekton adalah suatu kelompok organisme yang tinggal di dalam kolom air, baik di perairan tawar maupun laut. Bentos merupakan hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas atau di bawah dasar laut atau pada wilayah yang disebut lubuk maupun dasar daerah tepian.
3.2. Saran
Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya plankton, nekton, dan bentos dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut. Kita dapat melakukan upaya perlindungan terhadap habitat-habitat utama plankton, nekton, dan bentos, seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan zona pesisir, untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan.
DAFTAR PUSTAKA
Arianto, H. (2017). Urgensi Perlindungan Ekosistem Laut Terhadap Bahaya Ilegal Fishing. Lex Jurnalica, 14(3), 184-191
Burhanuddin I.A. 2019. Biologi Kelautan. Yogyakarta; Lily Publisher, Edisi I. Dengan Suhu Perairan Laut Di Sekitar PLTU Cirebon. Jurnal Perikanan Kelautan
Dwirastina, M, & Yoga, C. D. 2018. Penilaian Kualitas Perairan Ditinjau dari Keanekaragaman Infauna di Sungai Kumbe, Papua. Limnotek. 25(1): 30-38.
Fajar N. G. M., Rudiyanti S. A’in C. 2016. Pengaruh Unsur Hara Terhadap Kelimpahan Faturohman Ikhsan, Sunarto, I. Nurruhwati. 2016.
Hertika, A. M. S., Arsad, S., & Putra, R. B. D. S. (2021). Ilmu tentang Plankton dan Peranannya di Lingkungan Perairan. Universitas Brawijaya Press.
Hutabarat, S. Dan S.M., Evans. 2017. Pengantar Oseanografi. UI Press. Jakarta.
Netty, demak h sitanggang (2015). Peningkatan Hasil Belajar Ekosistem Melalui Penggunaan Laboratorium Alam‟, Jurnal Formatif, 5.(2): 156
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan Oleh H. Muhammad Eidman. PT Gramedia. Jakarta. 480 hlm
Pratiwi D. W., Koenawan J. C., Zulfikar A. 2015. Hubungan Kelimpahan Plankton
Rochmad, S. (2016) Ruang lingkup pencemaran, Pencemaran Lingkungan, 1
Romimohtarto, K dan S. Juwana. 2005. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan. Jakarta
Siagian, E. T., Manik, R. R. D. S., & Sinaga, M. P. (2023). Studi Keanekaragaman Makrozoobentos Di Sungai Tanjung Pinggir Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematang Siantar Provinsi Sumatera Utara. JURNAL WILAYAH, KOTA DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN, 2(2), 10-27
Zamani, N. P., Subhan, B., Meutia Samira Ismet, & Maduppa, H. (2020). Buku Panduan Praktikum Biologi Laut Edisi Revisi (1st ed.). IPB Press (Biologi laut)
Zikri,I. A, Nurhadi, & Abizar. 2023. Bentos yang Ditemukan Dikawasan Air Terjun Kawasan Sungai Geringging Kabupaten Padang Pariaman. Jurnal Pendidikan Tambusai. 7(3): 21562-21566.
#ilmukelautanunib #ilmukelautan #YarJohan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar