Jumat, 02 Februari 2024

MATA LEMBU (TURBO SETOSUS) SEBAGAI SUMBER MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT PESISIR PANTAI YANG KAYA AKAN MANFAAT

Oleh Arnold Willyarto (E1I023022)

 

" Mata lembu (Turbo setosus) cukup mudah untuk dijumpai, kemampuanya yang dapat beradaptasi dengan kualitas air jelek dapat dijadikan sebagai salah satu hewan laut bioindikator terhadap suatu perairan. Selain itu, kandungan gizi pada Mata lembu cukup baik untuk pertumbuhan "

 

 

I. PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang

Mata lembu (Turbo setosus) termasuk kedalam filum Moluska. Mata lembu merupakan hewan avertebrata air yang hidup di zona intertidal. Mata lembu (Turbo setosus) biasanya lebih dikenal dengan masyarakat Kabupaten Kaur dengan sebutan Sayal. Zona intertidal merupakan daerah pertemuan antara laut dan daratan antara pasang surut air laut. Biasanya daerah ini memiliki pengaruh pasang surut yang tinggi sehingga berdampak terhadap biota-biota laut yang ada didalamnya (Nurgroho, 2017).

Mata lembu cukup mudah untuk dijumpai. Kemampuannya yang mampu beradaptasi dengan kualitas air yang buruk membuatnya dapat dijadikan sebagai salah satu bioindicator dalam sebuah perairan, dikarnakan mata lembu memiliki sifat mobilitas yang rendah (Prasetia, 2017)

Mata lembu biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir  sebagai sumber makanan serta dijual belikan dalam bentuk fresh ataupun yang sudah diolah kembali menjadi berbagai jenis makanan, contohnya seperti sate mata lembu, ataupun dijadikan sebagai hiasan – hiasan yang menarik (Nurjanah, 2021). Selain itu, mata lembu dapat dipercaya memiliki kandungan untuk meningkatkan stamnina dan vatalitas (aprodisiaka) serta mata lembu juga dapat dijadikan bahan makanan dengan kandungan protein lebih dari 70,34%, karbohidrat 10,06%, dan lemak 2,20% (Merdekawati, 2017). Oleh karena itu, banyak masyarakat pesisir yang mengkonsumsi mata lembu sebab baik dikonsumsi bagi penderita penyakit hati. Hal inilah yang menyebabkan mata lembu menjadi salah satu keong laut primadona bagi masyarakat pesisir (Haslianti, 2017).

1.2.  Tujuan dan Manfaat

Tujuan tugas individu ini adalah untuk menambah pengetahuan dan informasi penulis mengenai Mata lembu (Turbo setosus) dan mengetahui manfaat serta strategi pengelolahan dari Mata lembu.

 

II. ISI 

2.1.  Klasifikasi Mata lembu (Turbo setosus)

Mata lembu (Turbo setosus) adalah hewantingkat rendah, karena tidak memiliki tulang belakang yang disebut dengan ivertebrata. Taksonomi dari Mata lembu sebagai berikut:

Kindom : Animalia Phylum : Mullusca Kelas : Gastropoda Ordo : Trochida Famili : Turbinidae Genus : Turbo Spesies : Turbo setosus (Gmelin, 1791).

2.2. Siklus Hidup 

Mata lembu (Turbo setosus) merupakan hewan hemaprodit yaitu memiliki dua alat kelamin dalam satu individu. Setiap siput memiliki sistem reproduksi janta dan betina yang berkombinasi. Tinggi di dalam cangkang terdapat ovotestis, yang menghasilkan telur dan sperma. Pada sistem reproduksi perempuan, saluran dari ovotestis terhubung kelenjar albumen, dari kelenjar tersebut oviduk besar memasuki vagina, yang mengarah ke atrium genital umum. vagina merupakan bagian yang terhubung ke saluran reseptakel seminalis dan juga kelenjar jari dan kantung anak panah (Siswantoro, 2015)

2.3.  Rantai Makanan

Kehadiran Mata lembu sangat ditentukan oleh adanya vegetasi lamun yang ada di daerah pesisir. Kelimpahan dan distribusi gastropoda dipengaruhi oleh faktor lingkungan setempat, ketersediaan makanan, pemangsaan dan kompetisi. Tekanan dan perubahan lingkungan dapat mempengaruhi jumlah jenis dan perbedaan pada struktur komunitas gastropoda. Komunitas Mata lembu merupakan komponen yang penting dalam rantai makanan di padang lamun, dimana Mata lembu merupakan hewan dasar pemakan detritus (detritus feeder) dan serasah dari daun lamun yang jatuh dan mensirkulasi zat-zat yang tersuspensi di dalam air guna mendapatkan makanan (Kinch, 2014).

2.4.  Habitat

Mata lembu (Turbo setosus) hidup diwilayah intertidal. Biasanya Mata lembu hidup dengan substrat batuan dan hidup secara berkelompok pada zona pasang surut rendah. Selain itu, biasanya Mata lembu hidup pada pecahan batu karang, dan pasir karang pada dataran terumbu karang, dataran karang mata, laut dangkal dengan suhu 27*C, salinitas 33-35 %, dan Ph 8,32. (Baharuddin, Basri, dan Syawal, 2018).

2.5. Cara Beradaptasi 

Mata lembu (Turbo setosus) temasuk kedalam kelas Gastropoda yang hidup diwilayah intertidal dengan perbedanan pasang surut dan gelombang tinggi memiliki kemampuan khusus untuk menyesuaikan diri dari lingkungan yang ekstrim dengan cara yaitu: Menyimpan air kedalam cangkang untuk mempermudah proses pernapasan (Islami 2015). Berpindah menuju daerah dengan salinitas kandungan air yang melimpah atau di bawah batu untuk mencari daerah yang lebih lembab (Aji & Widyastuti, 2017). Melakukan modifikasi atau adanya alat pernafasan tambahan disamping insang. Bersembunyi dibalik pecahan karang, bebatuan karang dan pasir karang pada dataran terumbu karang . (Ariani et al., 2019).

2.6. Fungsi dan Manfaat

Mata lembu (Turbo setosus) merupakan gastropoda laut yang termasuk dalam famili Turbinidae yang dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai sumber makanan yang mengandung berbagai protein dan mineral (Lestari dkk 2018). Mata lembu (Turbo setosus) biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir  sebagai sumber makanan serta dijual belikan dalam bentuk fresh ataupun yang sudah diolah kembali menjadi sate mata lembu (Nurjanah 2021). Selain itu, mata lembu dapat dipercaya memiliki kandungan untuk meningkatkan stamnina dan vatalitas (aprodisiaka) serta mata lembu juga dapat dijadikan bahan makanan dengan kandungan protein lebih dari 70,34%, karbohidrat 10,06%, dan lemak 2,20%.  (Merdekawati, 2017). Oleh karena itu, mata lembu baik dikonsumsi bagi penderita penyakit hari hal inilah yang menyebabkan mata lembu menjadi salah satu keong laut primadona bagi masyarakat pesisir (Haslianti, 2017).

2.7.  Strategi Pengelolahan

Diagram strategi pengelolahan Mata Lembu (Turbo setosus)  

 

 III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Keberadaan jenis gastropoda sangat membantu pemasukan bagi masyarakat pesisir. Salah satunya jenisya adalah Mata lembu (Turbo setosus). Mata lembu mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menilai suatu perairan. Selain itu, mata lembu dapat dipercaya memiliki kandungan untuk meningkatkan stamina dan vatalitas (aprodisiaka), serta meta lembu juga dapat dijadikan bahan makanan dengan kandungan protein lebih dari 70,34%, karbohidrat 10,06%, dan lemak 2,20%.

 3.2. Saran

Pengambilan sumber daya hayati yang berlebihan sering terjadi. Salah satunya jenis gastropoda adalah Mata lembu (Turbo setosus) yang menyebabkan populasi nya berkurang. Perlunya tingkat kesadaran yang tinggi dalam memanfaatkan sumber daya yang ada sangatlah penting untuk dimiliki. Hal ini yang harus dipertimbangkan dan dikaji lebih lanjut lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Aji, L.P. & Widyastuti, A. 2017. Keanekaragaman Moluska di ekosistem pesisir Biak Selatan, Papua. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. 2(1): 25-37.

 

Ariani, N.M.D., Swasta, I.B.J. & Adnyana, P.B. 2019. Studi tentang keanekaragaman dan kelimpahan moluska bentik serta faktor ekologis yang memengaruhinya di Pantai Mengening, Kabupaten Badung, Bali. Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha. 6(3): 146-157. 

 

Baharuddin, N. B. Basri, N.H. Syawal. 2018. “Marine gastropods (Gastropoda; Mollusca) diversity and distribution on intertidal rocky shores of Terengganu, Peninsular  Malaysia ”. AACL Bioflux. 11(4): 1144 – 1154. 

 

Haslianti, H., M.G. Inthe, & Ishak, E. 2017. Karakteristik keong kowoe dan Aktivita antioksidannya. J. Pengolahan Hasil Perairan. 20(1): 74-83.

 

Islami, M.M. 2015. Distribusi spasial gastropoda dan kaitannya dengan engolahan Hasil Perikanan Indonesia. 7(2): 15-24. 

 

Kinch, J. 2003. Marine mollusc use among the women of Brooker Island, Louisiade Archipelogo, Papua New Guinea. SPC Women in Fisheries Information Bulletin Gilimanuk, Bli Barat. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, P20-P2B LIPI, Jakarta - Bogor. 40: 53-64.


Lestari, D.A., Azrianingsih, R., & Hendrian, H. , 2018. Filogenetik Jenis - jenis Annonaceae  dari Jawa Timur Koleksi Kebun Raya Purwodadi Berdasarkan Coding dan Non- coding sekuen DNA. J.Trop.Biodiv . Biotechnol. 3: 1–7.

 

Merdekawati, D., T. Nurhayati, & Jacoeb, A.M. 2017. Kandungan proksimat dan mineral dari keong Mata Lembu Turbo setosus (Gmelin 1791). J. Mina Sains, 3(1): 47-53.

 

Nurjanah, A. Abdullah, T. Hidayat, & Saulalae, A.V. 2021. Moluska: Karakteristik, Potensi, Dan Pemanfaatan sebagai Bahan Baku Industri Pangan dan Non Pangan. Aceh: Syahkuala Press. 

 

Prasetia, R. R. 2017. Keanekaragaman Makrozoobentos sebagai Indikator Kualitas Perairan Kampung Baru Kecamatan Tanjungpinang Barat Kota Tanjung Pinang. Skripsi. Universitas Maritim Raja Ali Haji

 

Siswantoro. 2015 . Kepadatan dan Distribusi Bivalvia pada Mangrove di Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara, Jurnal Biogenesis. 9(1) 

 

 

#Ilmukelautanunib #Ilmukelautan #YarJohan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISTILAH DALAM CARA MAKAN BIOTA LAUT

”ISTILAH DALAM POLA CARA MAKAN HEWAN LAUT”   Dalam ekologi laut, organisme tidak hanya diklasifikasikan berdasarkan jenis atau taksonominy...